Oleh : Wuri setyaningsih (Caang 2008)
Soe hok Gie di lahirkan pada tanggal 17 desember 1942, ketika perang tengah berkecamuk di pasifik , soe hok gie atau biasa di panggil gie ini adalah putera ke empat dari Soe lie pet seorang penulis yang handal.
Meskipun dia lahir dari peranakan cina dia tidak pernah merasa terasingkan dan canggung di lingkungannya , Gie kecil sangat suka sekali membaca bahkan saat dia masih duduk di bangku SMP Strada dia pernah menaruh dendam kepada gurunya karena nilai ulangannya di kurangi , akibat berdebat dengan salah satu gurunya , Gie yang merasa bahwa yang di lakukan oleh gurunya merupakan perbuatan yang melanggar nilai-nilai demokrasi dan Gie pun tidak memilih diam, akhirnya dia melakukan koreksi habis-habisan kepada gurunya , saat itulah kali pertamanya di menulis buku hariannya
“ Hari ini hari ketika dendam mulai membatu .Ulangan Ilmu Bumiku 8 tapi di kurangi 3 jadi tinggal 5.Aku tak senang dengan itu . Aku iri karena di kelas merupakan orang ke tiga yang terpandai dari ulangan tersebut .Aku percaya bahwa setidak-tidaknya aku yang terpandai dalam Ilmu Bumi dari seluruh kelas .Dendam yang di simpan lalu turun ke hati , mengeras sebagai batu. Kertanya aku buang . Biar aku di hukum , aku tak pernah jatuh dalam ulangan”
“Dan Guru bukanlah dewa yang selalu benar ,dan murid bukanlah kerbau”
Kalimat itu menggambarkan bahwa betapa kritisnya pikiran seorang anak SMP yang belum tentu semua anak berani mengatakannya .
Setelah dia menginjak dewasa dan masuk ke bangku kuliah. Gie semakin matang untuk berfikir kritis, terutama politik yang bergejolak dan memanas pada era Orde lama saat itu , di mana harga kebutuhan bahan pokok, dan bahan bakar melambung drastis mencekik rakyat kecil , di tambah lagi dengan krisis kepercayaan , serta korupsi yang di mana- mana , hal itu yang membuat pintu hati gie terketukdan akhirnya dia menulis semua kritikan-kritikan yang pedas lewat harian kompas,Dia merasa bahwa masyarakat telah di nina bobokan oleh janji – janji dari antek – antek soekarno, rakyat tang hampir mati kelaparan , tapi para pejabat-pejabat malah makan enak dan duduk-duduk dengan santai di DPR dan di Istana Negara.
Soe hok gie yang pada awalnya simpatik dengan perjuangan presiden soekarno serta kawan-kawannya , malah berbalik 180 derajat menjadi menentang semua kebijakan mereka, dia merasa bahwa generasi tua telah menghianati apa yang mereka perjuangkan selama ini, lupa dengan tujuan perjuangan semula dan berbelok kepada politik yang diktaktor dan terlalu radikal untuk rakyat , mereka hanya mementingkan golongan atas serta ormas-ormasnya ,
Selain Dia menulis kritikan-kritikan di Koran , dia juga sering di undang ke radio-radio untuk menyampaikan pendapatnya tentang pemerintahan Negara.Gie memang pribadi yang gemar dan pandai memakai kata dalam memerangi dekandensi-dekandensi moral . sering sekali kritikan-kritikannya hampir membuat nyawanya melayang , karena terror di mana-mana , tapi dia tidak pernah takut dan hal itu semakin membuatnya tetap bertahan karena
“ aku lebih baik di asingkan daripada menyerah pada kemunafikan, dan aku ingin menjadi pohon oek yang selalu menentang angin.” Bahkan Kritikan –kritikannya juga menjauhkannya dengan orang-orang yang sangat di cintainnya.
Puncaknya pada tahun 1966 , Gie dan teman sesama mahasiswa berorasi dan menuntut keadilan dengan bergabung dan menyatakan diri mereka sebagai KAMI, mereka menuntut mundur para menteri penjilat dengan menyebut mereka sebagai MANIPOL USDEK , dan istilah Ganyang merupakan kata-kata yang santer terdengar dalam Orasi mereka di Istana Negara, dan menyetop mobil para menteri dan mencoret – coret mobilnya dengan Kalimat “ rakyat lapar “, serta menyanyikan yel – yel kemarahan mahasiswa dan rakyat, Gie sangat menyayangkan nilai guna Istana Negara saat itu ,yang seharusnya di gunakan untuk semestinya bukan untuk berpesta – pesta dengan para pelayan perempuan istana yang berpakaian seksi . menteri yang seharusnya bekerja untuk rakyat malah memalingkan muka dari rakyat dan hanya mementingkan nasip perutnya sendiri .
ke adaan Indonesia yang semakin terpuruk itu membuat kerinduan yang sangat mendalam dengan kedamaian ,kerinduan itupun dia lampiaskan dengan menulis sebuah puisi
“ Saya mimpi tentang sebuah dunia ,
Dimana para ulama – buruh , dan pemuda ,
bangkit dan berkata STOP pada kemunafikan ,
stop semua pembunuhan atas nama apa pun .
Dan para politisi di PBB,
Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu , dan beras,
Buat anak-anak yang lapar di tiga benua ,
Dan lupa akan diplomasi .
Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun,
Agama apa pun . rasa apa pun , dan bangsa apa pun,
Dan melupakan perang dan kebencian
Dan hanya sibuk denga pembangunan dunia yang lebih baik .
Tuhan saya mimpi tentang dunia tadi ,Yang tak pernah akan datang.”
Puisi itu telah menggambarkan betapa dunia ini rindu dengan kedamaian
Dan sibuk menata pembangunan .pada akhir hidupnya pun Gie masih sempat mengirimkan bedak , lipstick kepada para menteri sebelum berangkat ke semeru, itu semua symbol dari kemunafikan pemerintah dalam melakukan kewajibannya , dengan berkedok yang atas nama kepentingan Negara.